Keterampilan literasi merupakan senjata utama dalam menyebarkan ide, pemikiran, dan dakwah di era informasi yang sangat cepat ini. Santri Menulis! menjadi gerakan baru yang dicanangkan untuk mengasah kemampuan ekspresi tulis para pelajar di lingkungan pesantren. Melalui sebuah inisiatif terstruktur, Darul Muhsinin berupaya memberikan ruang bagi para santri untuk menuangkan gagasan mereka melalui berbagai media. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menghidupkan mading sekolah secara rutin setiap minggu dengan konten yang segar dan inspiratif. Selain media fisik, keberadaan blog pesantren juga menjadi wadah digital yang sangat strategis untuk menjangkau audiens yang lebih luas di luar tembok pondok. Program inisiatif Darul Muhsinin ini terbukti efektif dalam meningkatkan minat baca dan tulis, sehingga diharapkan mampu melahirkan penulis-penulis muda yang handal dari kalangan pesantren.
Menulis bukan hanya soal merangkai kata, melainkan cara mengorganisir pola pikir secara sistematis. Dalam program ini, para santri diajarkan berbagai teknik kepenulisan, mulai dari penulisan berita, artikel opini, hingga karya sastra seperti puisi dan cerpen bertema islami. Redaksi mading santri dibentuk secara mandiri, di mana mereka bertanggung jawab penuh dalam melakukan kurasi naskah, penyuntingan, hingga tata letak visual. Proses ini melatih tanggung jawab dan kerja sama tim yang sangat baik di antara para santri yang memiliki minat di bidang jurnalistik.
Blog pesantren memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi dengan mading fisik. Jika mading menjadi konsumsi harian santri di dalam pondok, blog berfungsi sebagai jendela bagi wali santri dan masyarakat umum untuk melihat dinamika kehidupan dan pemikiran santri. Di dalam blog tersebut, santri diajarkan untuk menulis esai-esai pendek mengenai hasil kajian kitab kuning atau refleksi kehidupan sehari-hari di pesantren. Hal ini tidak hanya mengasah kemampuan literasi, tetapi juga menjadi sarana dakwah digital yang efektif. Tulisan yang bagus dan bermakna dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya setiap kali dibaca oleh orang lain.
Pihak pengasuh Darul Muhsinin menekankan bahwa kegiatan menulis ini tidak boleh mengganggu kewajiban utama santri dalam menghafal Al-Qur’an dan belajar kitab. Justru, dengan menulis, pemahaman santri terhadap materi pelajaran seringkali menjadi lebih dalam. Menulis memaksa seseorang untuk memahami sebuah subjek secara tuntas sebelum mampu menjelaskannya kembali kepada orang lain. Oleh karena itu, kegiatan menulis diintegrasikan sebagai bagian dari pengayaan mata pelajaran bahasa dan sastra di pesantren.
