Ramadan di Pesantren Darul Muhsinin selalu identik dengan dinamika belajar yang sangat tinggi melalui program unggulan yang dikenal sebagai ngaji pasaran. Salah satu hal yang membuat program ini begitu diminati adalah metode cepat khatam yang diterapkan untuk menyelesaikan berbagai judul kitab hanya dalam hitungan hari atau minggu. Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah kitab yang tebalnya ratusan halaman bisa dikhatamkan dengan pemahaman yang baik dalam waktu sesingkat itu? Rahasianya terletak pada manajemen waktu yang presisi, penguasaan teknik baca cepat kiai, dan fokus total para peserta yang mengikuti program ini.
Efektivitas program ini tidak lepas dari struktur kurikulum yang telah dirancang khusus untuk bulan suci. Di Darul Muhsinin, setiap hari dibagi menjadi beberapa sesi pengajian yang terjadwal ketat, mulai dari fajar hingga tengah malam. Kitab Ramadan yang dipilih biasanya disesuaikan dengan tingkat kemampuan santri, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Kiai yang membacakan kitab menggunakan teknik balaghah dan fokus pada poin-poin inti tanpa mengurangi esensi dari teks aslinya. Santri tidak perlu lagi mencari makna di kamus karena kiai langsung memberikan terjemahan dan penjelasan singkat yang padat, sehingga waktu belajar menjadi sangat efisien.
Selain faktor teknik mengajar, dukungan lingkungan di pesantren sangat mempengaruhi keberhasilan program ini. Darul Muhsinin menciptakan ekosistem di mana seluruh santri memiliki visi yang sama, yaitu mengejar target khataman. Tidak ada gangguan dari televisi, gadget, atau kebisingan kota, sehingga pikiran santri benar-benar terfokus pada kitab yang ada di hadapan mereka. Mentalitas “berlomba-lomba dalam kebaikan” ini memicu adrenalin positif bagi santri untuk tetap terjaga dan konsentrasi penuh meskipun jadwal pengajian sangat padat. Inilah salah satu bentuk disiplin militer ala pesantren yang sangat efektif dalam membentuk karakter pejuang ilmu.
Rahasia lain dari efektivitas ngaji pasaran adalah adanya sistem pengulangan atau murojaah yang dilakukan secara mandiri oleh santri di sela-sela waktu istirahat. Meskipun kiai membaca dengan cepat, santri diberikan kesempatan untuk mendiskusikan bagian yang sulit dengan santri senior atau melalui sesi tanya jawab singkat. Metode ini memastikan bahwa meskipun proses belajar berjalan cepat, pemahaman santri tetap terjaga pada level yang optimal. Selain itu, penggunaan media papan tulis untuk memetakan skema pemikiran kitab juga sering dilakukan oleh para pengajar untuk mempermudah santri dalam memvisualisasikan materi yang sedang dibahas.
