Di tengah gempuran pembelajaran daring dan platform digital, Sistem Sorogan dan Bandongan—dua metode pembelajaran klasik khas Pondok Pesantren—ternyata masih sangat relevan dan bahkan menawarkan keunggulan unik yang sulit direplikasi oleh teknologi. Sistem Sorogan merujuk pada praktik di mana santri secara individu atau kelompok kecil membaca dan menjelaskan kembali Kitab Kuning kepada Kyai atau Asatidz, sementara Bandongan adalah pengajian massal di mana Kyai membacakan dan menerangkan Kitab kepada banyak santri sekaligus. Metode ini adalah fondasi dari pendidikan karakter dan intelektual santri, melatih keterampilan yang melampaui sekadar transfer informasi digital.
Kelebihan utama Sistem Sorogan adalah personalisasi dan interaksi langsung (one-on-one). Di era digital, meskipun materi belajar berlimpah, umpan balik pribadi dan koreksi mendalam seringkali minim. Dalam Sorogan, Kyai dapat segera mengidentifikasi titik lemah santri, baik dalam pelafalan Bahasa Arab (Makharijul Huruf), pemahaman tata bahasa (Nahwu-Sharf), maupun interpretasi konteks hukum (Fiqh). Interaksi tatap muka ini juga memperkuat ikatan emosional dan spiritual (Ruhaniyah) antara guru dan murid, yang merupakan esensi dari sanad keilmuan pesantren. Sebuah penelitian dari Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) Nahdlatul Ulama pada 19 September 2025 menyimpulkan bahwa metode Sorogan menghasilkan tingkat retensi memori dan pemahaman kontekstual 25% lebih tinggi daripada pembelajaran pasif.
Sementara itu, Bandongan melatih keterampilan konsentrasi dan penulisan yang esensial. Saat Kyai menyampaikan materi kepada ratusan santri, santri dituntut untuk fokus penuh, mendengarkan, dan secara bersamaan mencatat makna harfiah (makna gandul) pada Kitab mereka. Praktik ini membangun daya tahan mental dan kemampuan multitasking yang sulit didapatkan dari mendengarkan rekaman ceramah. Bandongan juga menciptakan lingkungan pembelajaran kolektif yang kuat, di mana semua santri, terlepas dari tingkatannya, berada di bawah bimbingan langsung Kyai. Dalam rapat kerja Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 15 Februari 2026, ditegaskan bahwa metode Bandongan penting untuk menjaga keseragaman pemahaman dasar agama di kalangan komunitas.
Sistem Sorogan dan Bandongan membuktikan bahwa pendidikan efektif membutuhkan human touch dan disiplin. Di mana teknologi unggul dalam distribusi konten, Sistem Sorogan unggul dalam delivery personal dan evaluasi kualitas pemahaman. Keduanya adalah sistem yang saling melengkapi: Bandongan memberikan wawasan luas, sementara Sorogan menguji dan menguatkan pemahaman individu. Oleh karena itu, di era di mana informasi begitu mudah diakses, peran Kyai sebagai verifikator dan pewaris sanad ilmu melalui metode klasik ini menjadi semakin vital, memastikan santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga hikmah dan keberkahan dari ilmu tersebut.
