Dalam aktivitas kesenian Islam di pondok pesantren, hadroh telah menjadi salah satu instrumen musik yang paling diminati. Tidak hanya sebagai sarana hiburan, hadroh juga menjadi media dakwah melalui syair-syair shalawat yang dilantunkan. Di Pondok Darul Muhsinin, penggunaan alat musik ini hampir terjadi setiap hari, baik untuk latihan rutin maupun acara-acara besar. Namun, intensitas penggunaan yang tinggi sering kali membuat kondisi alat musik cepat menurun jika tidak dibarengi dengan pemeliharaan yang tepat. Oleh karena itu, penting bagi setiap santri untuk memahami cara praktis dalam menjaga kualitas alat musik tersebut agar tetap awet dan menghasilkan suara yang prima dalam jangka waktu lama.
Langkah pertama yang paling mendasar adalah memperhatikan kebersihan alat setelah digunakan. Banyak santri yang sering lupa menyimpan alat hadroh dalam kondisi lembap atau kotor setelah tampil. Kelembapan adalah musuh utama dari instrumen yang menggunakan kulit kambing sebagai membran resonansinya. Jika dibiarkan terlalu lama dalam kondisi lembap, kulit akan menjadi kendur dan berisiko terkena jamur yang dapat merusak kualitas suara (pitch). Oleh karena itu, langkah terbaik adalah mengelap permukaan kulit dan kayu dengan kain kering yang lembut segera setelah latihan usai. Memastikan alat dalam keadaan kering sebelum dimasukkan ke dalam tas penyimpanan adalah kunci utama untuk menjaga keawetan instrumen.
Selanjutnya, teknik penyimpanan juga memegang peranan krusial. Alat musik hadroh tidak boleh disimpan di sembarang tempat, apalagi jika tempat tersebut terpapar sinar matahari langsung atau memiliki tingkat kelembapan ekstrem. Di Pondok Darul Muhsinin, para santri diajarkan untuk menyusun alat tersebut secara rapi di rak khusus yang memiliki sirkulasi udara yang baik. Jika memungkinkan, gunakan tas pelindung (softcase) yang empuk untuk melindungi bagian kulit dari benturan fisik yang tidak disengaja. Hindari meletakkan beban berat di atas alat musik karena dapat merusak rangka kayu (frame) dan memengaruhi kestabilan suara saat dimainkan.
Dalam konteks alat musik hadroh, proses penyeteman (tuning) juga harus dilakukan dengan bijak. Sering kali, santri memutar baut atau menekan kulit terlalu keras untuk mendapatkan suara yang nyaring secara instan. Padahal, penggunaan kunci penyetem yang berlebihan dapat memicu keretakan pada bingkai kayu atau merobek kulit jika dilakukan saat suhu ruangan sedang panas. Disarankan untuk melakukan penyeteman secara bertahap dan rutin, bukan hanya saat akan tampil. Dengan menjaga tegangan kulit tetap stabil dan tidak ekstrem, umur pakai alat tersebut bisa bertambah hingga dua kali lipat lebih lama dibandingkan alat yang jarang dirawat.
