Pondok Pesantren Darul Muhsinin memegang teguh prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah (A-SWJA) sebagai benteng akidah. Prinsip ini bukan hanya label identitas, tetapi metodologi berpikir dan beragama yang mencegah perpecahan. A-SWJA di sini diartikan sebagai jalan moderat (tawassuth) yang mengikuti jejak Nabi SAW dan para sahabat, mengedepankan kesatuan umat.
Inti ajaran A-SWJA di Darul Muhsinin bertumpu pada tiga pilar utama: tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleransi). Santri dididik untuk berada di tengah, menolak ekstremitas dalam beragama, baik yang terlalu liberal maupun radikal. Sikap moderat ini merupakan vaksin paling efektif melawan bibit perpecahan ideologis.
Prinsip Tawazun (keseimbangan) sangat ditekankan, menyeimbangkan antara akal dan dalil naqli (wahyu), serta antara kehidupan dunia dan akhirat. Mereka tidak menolak ilmu modern, tetapi menempatkannya di bawah panduan agama. Keseimbangan ini mengajarkan bahwa fanatisme yang tidak proporsional seringkali menjadi akar perpecahan di masyarakat.
Di sisi Fiqih, Ponpes Darul Muhsinin berpegang pada salah satu dari empat mazhab (Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali). Menghargai perbedaan mazhab adalah pelajaran penting tentang tasamuh (toleransi). Sikap menghormati perbedaan pendapat khilafiyah ini secara fundamental mengurangi potensi perpecahan sektarian di kalangan umat.
Darul Muhsinin juga menerapkan Tasamuh dalam kehidupan sosial. Santri diajarkan untuk menghormati tradisi lokal (urf) yang tidak bertentangan dengan syariat, sejalan dengan kaidah al-muhafadzah ‘ala al-qadimish shalih wa al-akhdzu bil jadidil ashlah. Pendekatan inklusif ini menghilangkan kesan eksklusif dan menjaga kerukunan beragama.
Kajian kitab turats (klasik) di Darul Muhsinin, seperti kitab-kitab Imam Al-Ghazali dan Asy’ari, membantu santri memahami akar sejarah perselisihan dalam Islam. Dengan mengetahui latar belakang khilaf, santri mampu membedakan antara masalah fundamental (ushul) dan cabang (furu’) yang tidak harus diperdebatkan.
Pada akhirnya, prinsip A-SWJA di Ponpes Darul Muhsinin bertujuan membangun persatuan dan jiwa ukhuwah Islamiyah. Dengan pola pikir yang moderat, seimbang, dan toleran, lulusan pesantren ini siap menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang rentan terhadap gesekan dan perpecahan.
Inilah komitmen Ponpes Darul Muhsinin: mencetak generasi yang memahami Islam secara utuh dan kontekstual. Dengan menjadikan A-SWJA sebagai filter utama, mereka berhasil menjaga identitas keislaman yang sejati, jauh dari ekstremisme, sekaligus merawat persatuan bangsa.
